Menggunakan
Kalimat yang Cermat dan Santun
Dalam berbahasa, terutama bahasa
tulis, kita harus menggunakan kalimat yang cermat dan santun. Kalimat yang
cermat dan santun adalah kalimat yang tepat dalam pemilihan kata (diksi). Pemilihan
kata atau diksi yang tepat hendaknya memperhatikan kriterian, antara lain:
1. Konotasi
baik
2. Tidak
ambigu
3. Kata
acuan
4. Situasi
kebahasaan.
Kriteria-kriterian
tersebut dapat diperikan sebagai berikut:
1.
Konotasi
baik
Untuk
memperoleh kalimat yang santun, perlu dipilih kata/diksi yang tepat. Diksi/pilihan
kata yang tepat dapat diperoleh dengan cara memperhatikan konotasi kata
tersebut sopan atau tidak bila didengar oleh lawan bicara. Bandingkan kata-kata
berikut, istri-bini, hamil-bunting, dan asisten-pembantu.
2.
Tidak
ambigu
Kalimat
yang cermat dan santun adalah kalimat yang tidak bermakna ganda-biasanya
disebabkan penggunaan kata maupun jeda yang tidak tepat. Perhatikan contoh
kalimat berikut.
Pemilik kebun binatang
itu sudah tidak beruang lagi.
Kata
beruang pada kalimat tersebut memiliki dua kemungkinan makna:
-
Tidak memiliki uang
-
Tidak memiliki ruang
Kesalahan/keambiguan
kalimat di atas disebabkan penggunaan kata yang tidak tepat, yaitu beruang. Selain
itu, keambiguan dapat dicermati pada kalimat di bawah ini.
Untung
rakyat kecil kami berjuang.
Slogan tersebut tanpa jeda yang jelas sehingga
kalimat ini mempunyai dua kemungkinan makna, yaitu:
|
Jeda
|
Makna
|
|
Untuk rakyat kecil/kami berjuang
Untuk rakyat/kecil kami berjuang
|
Perjuangan kami
diperuntukan/diprioritaskan bagi rakyat kecil
Perjuangan kami untuk rakyat sangat
kecil, besar kemungkinan perjuangan itu untuk diri sendiri
|
Penggunaan
jeda yang berbeda ternyata menimbulkan dua makna yang sangat kontradiktif. Apab
ila
penulisan dilafalkan dengan jeda dan intonasi yang jelas, keambiguan makna
dapat dihindari.
3.
Kata
Acuan
Kata acuan sangat tepat penggunaannya
untuk mendapatkan kalimat yang cermat dan santun. Lebih-lebih dalam
hukum/perundang-undangan. Dengan menggunakan kata-kata acuan, kemungkinan salah
tafsir dapat dihindari. Perhatikan contoh berikut.
Anda masuk daerah bebas
parkir
Kalimat
tersebut terkesan membingungkan karena maksud yang ingin diungkapkan
penulis/penutur belum tentu sama dengan maksud pembaca/pendengar.
Kalimat
tersebut mempunyai dua kemungkinan, yaitu:
(1)
Daerah tersebut adalah tempat parkir dan
pengendara kendaraan bermotor bebas memilih tempat parkir sesuka mereka.
(2)
Daerah tersebut tidak diperuntukan untuk
area parkir.
Kalimat
yang kontradiktif seperti di atas seharusnya dapat dihindari dengan cara
menyesuaikan dengan situasi atau memperbaiki struktur kalimat menjadi “tempat
parkir” atau “dilarang parkir di sini”
4.
Situasi
kebahasaan
Apabila komunikasi terjadi secara lisan
antara pembicara/penutur dengan lawan bicara/pendengar, situasi kebahasaan
dapat diamati melalui gerak-gerik pembicara (kinetik).
0 komentar:
Posting Komentar